Api Warisan Bolaang Uki: Ini Bukan Tentang Darah, Ini Tentang Hati!

by -1131 Views

News Bolaang Uki – Hari ini, udara Bolaang Uki bergetar—bukan oleh hembusan angin yang biasa melintas di pesisir selatan, tetapi oleh gema sejarah yang telah berdenyut selama 176 tahun. Getaran itu seolah menyelinap dari balik lereng-lereng bukit, menembus hutan, rumah-rumah kayu, sungai, dan jiwa setiap manusia yang menyebut tanah ini sebagai rumah. Ini adalah gema masa lalu yang memanggil kita untuk mengingat, menghormati, memahami, dan meneruskan warisan para leluhur.

Perayaan hari ini bukan sekadar seremonial, bukan pula panggung megah yang hanya memamerkan kemeriahan. Ia adalah momen turun-temurun yang mengandung makna mendalam—sebuah penegasan bahwa Bolaang Uki bukan sekadar nama wilayah administratif, melainkan entitas sejarah yang memiliki nadi, akar, dan martabat.

Momentum ini lahir dari mandat Bupati Bolaang Mongondow Selatan, H. Iskandar Kamaru, S.Pt., M.Si., yang dengan kesungguhan menyerahkannya kepada para tokoh adat, tokoh masyarakat, para pemangku sejarah, dan generasi penerus. Dari musyawarah itu, lahirlah kesepakatan: menetapkan dan memperingati Hari Ulang Tahun Bolaang Uki berdasarkan landasan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Usia 176 tahun bukan angka yang tiba-tiba muncul dari kabut waktu. Ia adalah hasil kajian panjang, penelusuran terhadap manuskrip dan tradisi lisan, kesaksian para tua-tua adat, serta jejak kerajaan yang benar-benar pernah berdiri dan berpengaruh di tanah ini. Sejarahnya nyata, diakui, dan hidup sampai sekarang dalam adat istiadat, bahasa, garis keturunan, serta ingatan kolektif masyarakat Bolsel.

Dan hari ini, kami—saya dan keluarga—menjadi bagian kecil dari perjalanan sejarah besar itu.
Saya berdiri di tengah pusaran perayaan, di antara bendera-bendera yang berkibar dan masyarakat yang berkumpul dari berbagai penjuru. Di hadapan pemangku adat, pemerintah daerah, dan masyarakat, saya diberi kehormatan untuk membacakan sejarah terbentuknya Bolaang Uki, sebuah amanah yang membuat dada terasa penuh oleh kebanggaan sekaligus kerendahan hati.

Di sisi saya, putri pertama saya, Earlyta Arsyfa Salsabilla, berdiri tegak sebagai dirigen paduan suara, mewakili SMP Negeri Molibagu. Dengan gerakan tangan yang mantap dan ekspresi yang penuh semangat, ia memimpin lantunan lagu-lagu daerah—lagu-lagu yang memuat identitas dan kekuatan budaya Bolaang Uki. Melihatnya berdiri di panggung itu, saya merasakan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh kata-kata: pertemuan antara kebanggaan, haru, dan rasa syukur yang mendalam.

Di momen itu, merinding dan haru berpadu.
Kami, yang mewarisi darah Bolango dari garis ibu—darah yang sudah sejak dulu mengalir dalam sejarah Bolaang Uki—juga membawa darah Jawa dari ayah, sebuah perpaduan yang mencerminkan mosaik kebhinekaan Nusantara. Namun, semakin saya merenung di tengah perayaan ini, semakin saya sadar bahwa warisan terbesar bukanlah darah.

Sebab ini bukan tentang darah.
Ini tentang hati.
Tentang keterikatan kepada tanah tempat kita berpijak, tentang nilai yang kita jaga, tentang rasa hormat pada leluhur yang telah lebih dahulu menapaki jalan yang sekarang kita lalui. Tidak peduli dari mana kita berasal, ketika kita tumbuh, hidup, dan mengabdikan diri untuk tanah tertentu, maka di sanalah akar baru kita tumbuh.

Seperti pesan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun):

“Budaya adalah caramu menghormati bumi yang kau pijak, dan menghargai leluhur yang telah mewariskannya.”

Kalimat itu hari ini terasa sangat nyata.
Budaya bukan sekadar pakaian adat, nyanyian, atau ritual. Ia adalah napas yang menghidupkan masyarakat. Ia adalah cara kita bersyukur kepada bumi, kepada sejarah, dan kepada manusia yang menjadi jembatan masa lalu ke masa kini.

Karena itu, tanah ini layak dihormati—bukan hanya diwarisi secara biologis.
Warisan sejati bukan sekadar garis keturunan, tetapi komitmen untuk menjaga dan merawat tanah yang memberikan kehidupan.

Tidak ada lagi ruang untuk sekat-sekat semu. Tidak boleh ada lagi feodalisme warisan yang merasa lebih berhak hanya karena garis darah tertentu. Bolaang Uki yang kita rayakan hari ini bukan milik satu keluarga, satu marga, atau satu golongan. Ia adalah milik seluruh masyarakat yang mencintainya. Ia adalah rumah besar yang memayungi semua yang ingin membangunnya dengan hati.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.