News Bolaang Uki – Jusuf Kalla menilai konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi geopolitik yang tidak stabil biasanya berdampak langsung pada pasokan energi global, sehingga harga minyak mentah bisa melonjak.
Hal ini berimplikasi pada beban subsidi energi dalam negeri.
Tekanan terhadap APBN
Menurutnya, jika harga minyak dunia terus meningkat sementara harga BBM dalam negeri tetap, maka beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin berat. Subsidi yang membengkak dapat mengganggu keseimbangan fiskal pemerintah.
Oleh karena itu, penyesuaian harga dinilai sebagai langkah realistis.

Baca juga: Mensos: ASN yang Liburan Saat WFH Jumat Bisa Turun Pangkat hingga Dipecat
Jaga Stabilitas Ekonomi
Kenaikan harga BBM, menurut JK, dapat menjadi langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang. Dengan penyesuaian harga, pemerintah dapat mengurangi tekanan fiskal dan mengalokasikan anggaran ke sektor lain yang lebih produktif.
Langkah ini juga dianggap sebagai upaya menjaga kesehatan keuangan negara.
Dorong Penghematan Energi
Penyesuaian harga BBM juga diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih hemat dalam penggunaan energi. Konsumsi yang lebih efisien akan membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Efek ini dinilai penting dalam jangka panjang.
Perlu Kebijakan Tepat dan Terukur
Meski demikian, Jusuf Kalla menekankan bahwa kebijakan kenaikan harga BBM harus dilakukan secara hati-hati dan terukur. Pemerintah perlu mempertimbangkan dampak sosial, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Langkah kompensasi seperti bantuan sosial dinilai perlu disiapkan agar kebijakan tetap berpihak pada masyarakat.









